DigiBerita.com | Bahasa Indonesia
13 July 2024

Digiberita.com

Berita Startup dan Ekonomi Digital

Komnas HAM: Berdasarkan Lukanya, Brigadir J Diduga Ditembak Dari Jarak Berbeda-beda –

3 min read

Komisioner Bidang Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM Choirul Anam mengungkapkan, Brigadir J yang tewas di rumah dinas Kadiv Propam nonaktif Polri Irjen Ferdy Sambo kemungkinan ditembak dari jarak berlainan.

“Kalau dari karakter luka, jaraknya memang tidak terlalu jauh. Tetapi ada beberapa karakter jarak yang berbeda-beda. Itu dari hasil pendalaman kami,” ujar Anam kepada wartawan, Selasa (26/7).

Anam mengatakan, luka tembak di tubuh Brigadir J terdiri dari luka peluru masuk dan luka peluru keluar. Namun, ia belum merinci berapa jumlah luka tembak itu.

“Ada pertanyaan, kenapa kok jumlah lukanya masuk dan keluar berbeda? Karena memang ada yang masuk dan keluarnya pelurunya masih bersarang di tubuh, sehingga jumlahnya berbeda,” imbuhnya.

Sebelumnya, Komnas HAM sudah menggali keterangan dari pihak keluarga, ahli, serta memanggil tim forensik Polri yang mengotopsi jasad Brigadir J kemarin.

Anam menegaskan, berdasarkan bukti yang telah dikumpulkan saat ini, Komnas HAM sampai pada dugaan yang kian mengerucut soal waktu kematian dan jenis luka yang menewaskan Brigadir J.

“Kalau soal luka, pertama kami melihat secara kapan jenazah masuk dan mulai diautopsi, itu penting untuk menentukan kurang-lebih titik jam kematian kapan,” ungkapnya.

“Kami juga ditunjukkan titik titik lubang luka, di situ luka karena apa, terus kami ditunjukkan bagaimana mekanisme kerja mereka dalam menyakiti,” sambung Anam.

Sementara itu, hari ini Komnas HAM memeriksa tujuh ajudan Sambo yang tersisa setelah tewasnya Brigadir J. Ketujuh ajudan telah memenuhi panggilan Komnas HAM pagi tadi.

Tiba di kantor Komnas HAM pukul 09.48 WIB, para ajudan ini tidak mengenakan pakaian dinas Polri. Beberapa di antara mereka mengenakan kemeja putih dan cokelat.

Anam mengatakan, ajudan Irjen Ferdy Sambo merupakan pilar utama dalam penyelidikan kasus baku tembak Bharada E dengan Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J.

“Di proses awal kami melakukan pendalaman peristiwa ini, itu kami sudah punya satu peristiwa, peristiwa yang memang hanya bisa dikonfirmasi kepada ADC (ajudan), bukan kepada yang lain. Apa itu? Tunggu nanti setelah pemeriksaan,” tutur Anam, merahasiakan.

Anam menyebut ada dua model proses pemeriksaan. Dia mengatakan ajudan Irjen Ferdy Sambo akan diminta keterangan secara bersamaan maupun sendiri-sendiri. ■
]]> , Komisioner Bidang Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM Choirul Anam mengungkapkan, Brigadir J yang tewas di rumah dinas Kadiv Propam nonaktif Polri Irjen Ferdy Sambo kemungkinan ditembak dari jarak berlainan.

“Kalau dari karakter luka, jaraknya memang tidak terlalu jauh. Tetapi ada beberapa karakter jarak yang berbeda-beda. Itu dari hasil pendalaman kami,” ujar Anam kepada wartawan, Selasa (26/7).

Anam mengatakan, luka tembak di tubuh Brigadir J terdiri dari luka peluru masuk dan luka peluru keluar. Namun, ia belum merinci berapa jumlah luka tembak itu.

“Ada pertanyaan, kenapa kok jumlah lukanya masuk dan keluar berbeda? Karena memang ada yang masuk dan keluarnya pelurunya masih bersarang di tubuh, sehingga jumlahnya berbeda,” imbuhnya.

Sebelumnya, Komnas HAM sudah menggali keterangan dari pihak keluarga, ahli, serta memanggil tim forensik Polri yang mengotopsi jasad Brigadir J kemarin.

Anam menegaskan, berdasarkan bukti yang telah dikumpulkan saat ini, Komnas HAM sampai pada dugaan yang kian mengerucut soal waktu kematian dan jenis luka yang menewaskan Brigadir J.

“Kalau soal luka, pertama kami melihat secara kapan jenazah masuk dan mulai diautopsi, itu penting untuk menentukan kurang-lebih titik jam kematian kapan,” ungkapnya.

“Kami juga ditunjukkan titik titik lubang luka, di situ luka karena apa, terus kami ditunjukkan bagaimana mekanisme kerja mereka dalam menyakiti,” sambung Anam.

Sementara itu, hari ini Komnas HAM memeriksa tujuh ajudan Sambo yang tersisa setelah tewasnya Brigadir J. Ketujuh ajudan telah memenuhi panggilan Komnas HAM pagi tadi.

Tiba di kantor Komnas HAM pukul 09.48 WIB, para ajudan ini tidak mengenakan pakaian dinas Polri. Beberapa di antara mereka mengenakan kemeja putih dan cokelat.

Anam mengatakan, ajudan Irjen Ferdy Sambo merupakan pilar utama dalam penyelidikan kasus baku tembak Bharada E dengan Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J.

“Di proses awal kami melakukan pendalaman peristiwa ini, itu kami sudah punya satu peristiwa, peristiwa yang memang hanya bisa dikonfirmasi kepada ADC (ajudan), bukan kepada yang lain. Apa itu? Tunggu nanti setelah pemeriksaan,” tutur Anam, merahasiakan.

Anam menyebut ada dua model proses pemeriksaan. Dia mengatakan ajudan Irjen Ferdy Sambo akan diminta keterangan secara bersamaan maupun sendiri-sendiri. ■

]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2020 - 2024. PT Juan Global. All rights reserved. DigiBerita.com. |