DigiBerita.com | Bahasa Indonesia
2 March 2024

Digiberita.com

Berita Startup dan Ekonomi Digital

Masuk Fortune Global 500 Pertamina Buktikan Kuat Hadapi Tekanan Pandemi –

6 min read

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir gembira PT Pertamina (Persero) masuk daftar Fortune Global 500. Diharapkannya, BUMN lain bisa mengikuti jejak sukses perusahaan migas pelat merah tersebut.

Dalam daftar Fortune Global 500 periode 2022, Pertamina berada di peringkat 223, atau naik 64 peringkat dibanding tahun lalu di posisi 287.

Pertamina dalam Fortune Global di wilayah Asia Tenggara berada di peringkat 5. Di Asia, Pertamina berada di peringkat 105 dari 227 perusahaan.

“Saya mengapresiasi setinggi-tingginya kepada direksi, komisaris, dan seluruh insan Pertamina yang bekerja keras dalam meningkatkan daya saing perusahaan di kancah internasional,” ucap Erick dalam keterangan resminya, Selasa (9/8).

Di tahun ini, Fortune Global 500 menempatkan 30 perusahaan migas (minyak dan gas) dunia masuk kategori Petroleum Refining. Pertamina berada di urutan 21 di atas Idemitsu & Repsol.

Mantan Bos Inter Milan ini mengatakan, keberhasilan Pertamina menunjukkan bahwa BUMN tak hanya mampu bertahan saat menghadapi kondisi pandemi. Tapi juga dapat meningkatkan kinerja dengan berbagai jurus inovasinya.

Menurut dia, pencapaian perusahaan minyak negara itu tak lepas dari upaya transformasi dan restrukturisasi, alias beres-beres perseroan melalui pembentukan holding dan subholding.

Transformasi lewat holding dan subholding tersebut, sebut Erick, membuat operasional Pertamina lebih efektif dan efisien lantaran fokus pada core business.

“Hal ini sejalan dengan target kita, bahwa Pertamina harus menjadi perusahaan Global Energy Champion. Dan memiliki valuasi senilai 100 miliar dolar Amerika Serikat (Rp 1.487,4 triliun),” ungkapnya.

Erick berharap, pencapaian Pertamina dapat menjadi inspirasi bagi BUMN lain. Dia juga meyakini, BUMN-BUMN lain dapat meniru jejak Pertamina, asalkan mampu menjalankan upaya yang sama.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengamini, kendati pandemi Covid-19, kinerja keuangan perseroan pada 2021, malah membaik.

 

“Pertamina telah berhasil meningkatkan revenue dan laba bersih perusahaan dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Sebuah pencapaian yang luar biasa di tengah tantangan global dan pandemi yang belum berakhir,” kata Nicke dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (9/8).

Pertamina, sambung Nicke, berhasil mencatatkan revenue 57,51 miliar dolar AS (Rp 855,4 triliun) pada 2021. Atau naik dibanding tahun lalu sebesar 41,47 miliar dolar AS (Rp 616,8 triliun). Laba bersih Pertamina mencapai 2,045 miliar dolar AS (Rp 29,3 triliun), naik hampir dua kali lipat dibanding 2020 sebesar 1,05 miliar dolar AS (Rp 15,3 triliun).

“Pertamina juga merupakan perusahaan peringkat 12 dari 24 perusahaan yang dipimpin Female CEO (Chief Executive Officer). Dan satu-satunya di kategori Petroleum Refining yang dipimpin Female CEO,” jelas Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Tak hanya bertengger di peringkat global pada Fortune 500, pada September 2021, Pertamina juga menerima ESG (Environmental, Social, and Governance) Risk Rating 28,1 atau pada risiko sedang.

Penilaian global itu telah menempatkan Pertamina sebagai peringkat ke 15 dari 252 perusahaan dunia di industri minyak dan gas bumi, serta posisi delapan di sub industri integrated oil and gas.

“Hal ini merupakan pengakuan global atas komitmen dan effort Pertamina memimpin transisi energi, dekarbonisasi dalam mendukung net zero emission Indonesia tahun 2060,” jelas Nicke.

Menurut Nicke, transformasi merupakan langkah strategis beradaptasi dengan perubahan bisnis ke depan, bergerak lebih lincah dan lebih cepat. Serta fokus untuk pengembangan bisnis yang lebih luas dan agresif.

“Transformasi akan terus mendorong Pertamina menjadi perusahaan energi kelas dunia. Dengan dukungan seluruh stakeholder, Pertamina akan mewujudkan aspirasi pemegang saham mewujudkan target menjadi 100 perusahaan terkemuka dunia,” ujar Nicke.

Ikut Jejak Pertamina

Terpisah, Director Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyampaikan, keberhasilan Pertamina tercermin dari laporan keuangan. Pertamina berhasil meraup laba di tengah kondisi yang berat.

 

“Dalam situasi serba sulit ini, harus diakui tidak sedikit industri migas dunia yang justru mengalami kerugian. Jadi, Pertamina memang layak diapresiasi.” ucap Bhima kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Lebih jauh ia mengatakan, prestasi Pertamina perlu diikuti oleh BUMN lainnya. Menurut Bhima, ada beberapa BUMN lain yang juga layak mengekor keberhasilan Pertamina.

“Potensi besar juga ada di BUMN sektor perbankan. Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) punya peluang untuk masuk daftar Fortune Global 500,” ujarnya.

Hal itu berdasarkan kredit perbankan di Indonesia yang cukup besar, karena ada potensi 180 juta orang yang belum mendapat layanan keuangan formal.

Selanjutnya, BUMN sektor telekomunikasi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk pun dianggapnya layak masuk daftar tersebut. Ini berdasarkan pendapatan tahunan perusahaan.

Bhima menyebut, jasa sektor telekomunikasi melesat tajam saat pandemi Covid-19. Hal tersebut didukung oleh penggunaan internet di dalam negeri. Di mana pada 2020 Indonesia mencatatkan pengguna internet mencapai 202,6 juta pengguna aktif atau tumbuh 15,5 persen.

“Di sektor energi dan kelistrikan PT PLN (Persero) juga berpotensi masuk Fortune Global 500. Karena perusahaan peringkat dua yang masuk Global 500 saja ada State Grid Corporation of China atau perusahaan BUMN penyedia layanan listrik,” sebut Bhima.

Sepanjang tahun 2021, PLN mencatatkan total aset sekitar Rp 1.613 triliun. Jumlah itu meningkat dibandingkan lima tahun lalu yang berada di kisaran Rp 1.314 triliun. ■
]]> , Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir gembira PT Pertamina (Persero) masuk daftar Fortune Global 500. Diharapkannya, BUMN lain bisa mengikuti jejak sukses perusahaan migas pelat merah tersebut.

Dalam daftar Fortune Global 500 periode 2022, Pertamina berada di peringkat 223, atau naik 64 peringkat dibanding tahun lalu di posisi 287.

Pertamina dalam Fortune Global di wilayah Asia Tenggara berada di peringkat 5. Di Asia, Pertamina berada di peringkat 105 dari 227 perusahaan.

“Saya mengapresiasi setinggi-tingginya kepada direksi, komisaris, dan seluruh insan Pertamina yang bekerja keras dalam meningkatkan daya saing perusahaan di kancah internasional,” ucap Erick dalam keterangan resminya, Selasa (9/8).

Di tahun ini, Fortune Global 500 menempatkan 30 perusahaan migas (minyak dan gas) dunia masuk kategori Petroleum Refining. Pertamina berada di urutan 21 di atas Idemitsu & Repsol.

Mantan Bos Inter Milan ini mengatakan, keberhasilan Pertamina menunjukkan bahwa BUMN tak hanya mampu bertahan saat menghadapi kondisi pandemi. Tapi juga dapat meningkatkan kinerja dengan berbagai jurus inovasinya.

Menurut dia, pencapaian perusahaan minyak negara itu tak lepas dari upaya transformasi dan restrukturisasi, alias beres-beres perseroan melalui pembentukan holding dan subholding.

Transformasi lewat holding dan subholding tersebut, sebut Erick, membuat operasional Pertamina lebih efektif dan efisien lantaran fokus pada core business.

“Hal ini sejalan dengan target kita, bahwa Pertamina harus menjadi perusahaan Global Energy Champion. Dan memiliki valuasi senilai 100 miliar dolar Amerika Serikat (Rp 1.487,4 triliun),” ungkapnya.

Erick berharap, pencapaian Pertamina dapat menjadi inspirasi bagi BUMN lain. Dia juga meyakini, BUMN-BUMN lain dapat meniru jejak Pertamina, asalkan mampu menjalankan upaya yang sama.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengamini, kendati pandemi Covid-19, kinerja keuangan perseroan pada 2021, malah membaik.

 

“Pertamina telah berhasil meningkatkan revenue dan laba bersih perusahaan dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Sebuah pencapaian yang luar biasa di tengah tantangan global dan pandemi yang belum berakhir,” kata Nicke dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (9/8).

Pertamina, sambung Nicke, berhasil mencatatkan revenue 57,51 miliar dolar AS (Rp 855,4 triliun) pada 2021. Atau naik dibanding tahun lalu sebesar 41,47 miliar dolar AS (Rp 616,8 triliun). Laba bersih Pertamina mencapai 2,045 miliar dolar AS (Rp 29,3 triliun), naik hampir dua kali lipat dibanding 2020 sebesar 1,05 miliar dolar AS (Rp 15,3 triliun).

“Pertamina juga merupakan perusahaan peringkat 12 dari 24 perusahaan yang dipimpin Female CEO (Chief Executive Officer). Dan satu-satunya di kategori Petroleum Refining yang dipimpin Female CEO,” jelas Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Tak hanya bertengger di peringkat global pada Fortune 500, pada September 2021, Pertamina juga menerima ESG (Environmental, Social, and Governance) Risk Rating 28,1 atau pada risiko sedang.

Penilaian global itu telah menempatkan Pertamina sebagai peringkat ke 15 dari 252 perusahaan dunia di industri minyak dan gas bumi, serta posisi delapan di sub industri integrated oil and gas.

“Hal ini merupakan pengakuan global atas komitmen dan effort Pertamina memimpin transisi energi, dekarbonisasi dalam mendukung net zero emission Indonesia tahun 2060,” jelas Nicke.

Menurut Nicke, transformasi merupakan langkah strategis beradaptasi dengan perubahan bisnis ke depan, bergerak lebih lincah dan lebih cepat. Serta fokus untuk pengembangan bisnis yang lebih luas dan agresif.

“Transformasi akan terus mendorong Pertamina menjadi perusahaan energi kelas dunia. Dengan dukungan seluruh stakeholder, Pertamina akan mewujudkan aspirasi pemegang saham mewujudkan target menjadi 100 perusahaan terkemuka dunia,” ujar Nicke.

Ikut Jejak Pertamina

Terpisah, Director Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyampaikan, keberhasilan Pertamina tercermin dari laporan keuangan. Pertamina berhasil meraup laba di tengah kondisi yang berat.

 

“Dalam situasi serba sulit ini, harus diakui tidak sedikit industri migas dunia yang justru mengalami kerugian. Jadi, Pertamina memang layak diapresiasi.” ucap Bhima kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Lebih jauh ia mengatakan, prestasi Pertamina perlu diikuti oleh BUMN lainnya. Menurut Bhima, ada beberapa BUMN lain yang juga layak mengekor keberhasilan Pertamina.

“Potensi besar juga ada di BUMN sektor perbankan. Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) punya peluang untuk masuk daftar Fortune Global 500,” ujarnya.

Hal itu berdasarkan kredit perbankan di Indonesia yang cukup besar, karena ada potensi 180 juta orang yang belum mendapat layanan keuangan formal.

Selanjutnya, BUMN sektor telekomunikasi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk pun dianggapnya layak masuk daftar tersebut. Ini berdasarkan pendapatan tahunan perusahaan.

Bhima menyebut, jasa sektor telekomunikasi melesat tajam saat pandemi Covid-19. Hal tersebut didukung oleh penggunaan internet di dalam negeri. Di mana pada 2020 Indonesia mencatatkan pengguna internet mencapai 202,6 juta pengguna aktif atau tumbuh 15,5 persen.

“Di sektor energi dan kelistrikan PT PLN (Persero) juga berpotensi masuk Fortune Global 500. Karena perusahaan peringkat dua yang masuk Global 500 saja ada State Grid Corporation of China atau perusahaan BUMN penyedia layanan listrik,” sebut Bhima.

Sepanjang tahun 2021, PLN mencatatkan total aset sekitar Rp 1.613 triliun. Jumlah itu meningkat dibandingkan lima tahun lalu yang berada di kisaran Rp 1.314 triliun. ■

]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2020 - 2024. PT Juan Global. All rights reserved. DigiBerita.com. |