DigiBerita.com | Bahasa Indonesia
22 May 2024

Digiberita.com

Berita Startup dan Ekonomi Digital

Kemenkominfo-GNLD Siberkreasi Luncurkan 58 Buku Literasi Digital –

3 min read

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama dengan Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi dan mitra jejaringnya meluncurkan 58 buku kolaborasi terkait dengan literasi digital.

“Masyarakat bisa menggunakan buku-buku literasi digital secara masif untuk pendidikan. Buku-buku literasi digital yang telah diluncurkan, bisa diunduh secara bebas dan gratis melalui situs literasidigital.id,” kata Anggota Dewan Pengarah GNLD Siberkreasi Donny Budi Utoyo, seperti keterangan yang diterima RMid, Selasa (16/8).

Berdasarkan Survei Indeks Literasi Digital Nasional Indonesia yang dilakukan oleh Kemenkominfo dan Katadata Insight Center pada tahun 2021, saat ini Indonesia masih menduduki kategori sedang dalam hal kapasitas literasi digital dengan nilai angka sebesar 3.49 dari 5.00.

Karena itu, Kemenkominfo berkolaborasi dengan Siberkreasi dan mitra-mitra meluncurkan 58 buku kolaborasi seri Literasi Digital.

Donny menambahkan, toleransi yang ada saat ini adalah hasil dari tingkat literasi yang tinggi serta kebebasan berekspresi. Tingkat toleransi semakin tinggi jika apresiasi dan etika ini ada ketika berpendapat.

“Kebebasan berekspresi ini tidak bisa dipisahkan dengan etika dan toleransi. Mereka ini harus jadi satu. Jika tidak, bisa menimbulkan masalah bahkan bisa berujung ke ranah hukum. Alangkah indahnya jika ada perbedaan pendapat, ya diberikan juga tempat untuk berdiskusi secara baik,” jelasnya.

Perwakilan dari Center for Digital Society (CfDS), Universitas Gadjah Mada, Amelinda Kusumaningtyas, mengatakan buku-buku yang diluncurkan merupakan bentuk dari riset tentang perubahan-perubahan sosial yang disebabkan oleh transformasi digital.

“Buku yang kami buat ada tentang ekonomi digital yang menjelaskan tentang pemanfaatannya seperti apa, implikasi ke pemberdayaan perempuan dan inovasi digital apa yang terbentuk ketika Covid-19 terjadi,” ungkapnya.

Sementara buku kedua membahas tentang ketidaksetujuan terhadap doxing. Menurutnya, apapun alasannya, perundungan di dunia maya bukan suatu hal yang bisa dijustifikasi.

“Dari situlah kami membahas kira-kira langkah apa yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan kepedulian dan mencegah perundungan digital,” tambah dia.

 

Perwakilan dari Common Room, Erni Sulistyowati, menjelaskan ada buku yang bertujuan untuk membantu menurunkan kesenjangan digital di Indonesia.

Ada buku yang membahas tentang peningkatan kapasitas di bidang teknologi informasi, pemanfaatan digital, kebijakan dan regulasi, serta tentang pembelajaran informatika.

“Saya harap semoga buku ini ada dan terus berkembang mengikuti dinamika yang ada dengan kebutuhan yang ada di masyarakat. Semoga buku ini juga dapat berkontribusi untuk menyelesaikan kesenjangan digital di Indonesia, khususnya pedesaan dan daerah terpencil,” harapnya. ■
]]> , Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama dengan Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi dan mitra jejaringnya meluncurkan 58 buku kolaborasi terkait dengan literasi digital.

“Masyarakat bisa menggunakan buku-buku literasi digital secara masif untuk pendidikan. Buku-buku literasi digital yang telah diluncurkan, bisa diunduh secara bebas dan gratis melalui situs literasidigital.id,” kata Anggota Dewan Pengarah GNLD Siberkreasi Donny Budi Utoyo, seperti keterangan yang diterima RMid, Selasa (16/8).

Berdasarkan Survei Indeks Literasi Digital Nasional Indonesia yang dilakukan oleh Kemenkominfo dan Katadata Insight Center pada tahun 2021, saat ini Indonesia masih menduduki kategori sedang dalam hal kapasitas literasi digital dengan nilai angka sebesar 3.49 dari 5.00.

Karena itu, Kemenkominfo berkolaborasi dengan Siberkreasi dan mitra-mitra meluncurkan 58 buku kolaborasi seri Literasi Digital.

Donny menambahkan, toleransi yang ada saat ini adalah hasil dari tingkat literasi yang tinggi serta kebebasan berekspresi. Tingkat toleransi semakin tinggi jika apresiasi dan etika ini ada ketika berpendapat.

“Kebebasan berekspresi ini tidak bisa dipisahkan dengan etika dan toleransi. Mereka ini harus jadi satu. Jika tidak, bisa menimbulkan masalah bahkan bisa berujung ke ranah hukum. Alangkah indahnya jika ada perbedaan pendapat, ya diberikan juga tempat untuk berdiskusi secara baik,” jelasnya.

Perwakilan dari Center for Digital Society (CfDS), Universitas Gadjah Mada, Amelinda Kusumaningtyas, mengatakan buku-buku yang diluncurkan merupakan bentuk dari riset tentang perubahan-perubahan sosial yang disebabkan oleh transformasi digital.

“Buku yang kami buat ada tentang ekonomi digital yang menjelaskan tentang pemanfaatannya seperti apa, implikasi ke pemberdayaan perempuan dan inovasi digital apa yang terbentuk ketika Covid-19 terjadi,” ungkapnya.

Sementara buku kedua membahas tentang ketidaksetujuan terhadap doxing. Menurutnya, apapun alasannya, perundungan di dunia maya bukan suatu hal yang bisa dijustifikasi.

“Dari situlah kami membahas kira-kira langkah apa yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan kepedulian dan mencegah perundungan digital,” tambah dia.

 

Perwakilan dari Common Room, Erni Sulistyowati, menjelaskan ada buku yang bertujuan untuk membantu menurunkan kesenjangan digital di Indonesia.

Ada buku yang membahas tentang peningkatan kapasitas di bidang teknologi informasi, pemanfaatan digital, kebijakan dan regulasi, serta tentang pembelajaran informatika.

“Saya harap semoga buku ini ada dan terus berkembang mengikuti dinamika yang ada dengan kebutuhan yang ada di masyarakat. Semoga buku ini juga dapat berkontribusi untuk menyelesaikan kesenjangan digital di Indonesia, khususnya pedesaan dan daerah terpencil,” harapnya. ■

]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2020 - 2024. PT Juan Global. All rights reserved. DigiBerita.com. |