DigiBerita.com | Bahasa Indonesia
22 May 2024

Digiberita.com

Berita Startup dan Ekonomi Digital

Lestarikan Budaya Nasional, Pendanaan Pertamina Untuk Perajin Batik Tembus Rp 11,5 Miliar –

6 min read

Pelaku usaha batik yang sebagian besar merupakan pengusaha kecil merupakan salah satu ujung tombak pelestarian warisan budaya nasional. Sekitar 300 orang perajin batik di seluruh Indonesia telah menjadi mitra binaan PT Pertamina (Persero) dan mendapatkan pinjaman murah dengan total nilai mencapai Rp 11,503 miliar.

Salah satu penerima pendanaan Pertamina adalah Yuli Astuti, pemilik Muria Batik Kudus, yang membangun bisnis batiknya sejak 2006 untuk melestarikan batik Kudus.

Menurutnya, batik Kudus yang mengalami kejayaan pada era 1930-an hingga 1970-an mulai punah. Untuk menjaga warisan budaya itu, dia melakukan penelitian dan membuat batik Kudus dengan menerapkan kearifan lokal.

“Saya memilih menggunakan nama Muria Batik karena sering meneliti sejarah di Gunung Muria yang kemudian saya aplikasikan ke motif batik,” ujarnya, kemarin.

Sejauh ini, Yuli telah mendaftarkan sekitar 30 motif batik di Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) seperti motif Parijotho, Kudusan, Kapal Kandas, dan batik-batik lainnya yang khas dengan daerah Kudus.

Untuk mengembangkan bisnis batik yang berlokasi di Karangmalang itu, dia telah dua kali mendapatkan pinjaman murah dari Pertamina yakni senilai Rp 10 juta pada 2017 dan Rp 150 juta pada 2019. Omzetnya meningkat 30 persen hingga Rp 100 juta rupiah per bulan.

Untuk pendanaan dari Pertamina, pertama kali Yuli dikenalkan oleh temannya yang telah lebih dulu menjadi mitra binaan.

Ia mengaku sangat terbantu sekali setelah mendapatkan pendanaan tersebut. Selain dengan bunga ringan dan pembinaan selama ini, dirinya memiliki kesempatan mengikuti pameran dan pemasaran yang diberikan Pertamina.

“Sangat membantu perkembangan usaha Muria Batik. Walaupun kemarin ada pandemi masih mampu bertahan,“ tuturnya.

Mitra binaan Pertamina lainnya adalah Iftitakhiyah, pemilik usaha Batik Pekatan, di Depok, Jawa Barat, yang dirintis pada 2019. Dia yang terlahir dari keluarga pengusaha batik di Pekalongan mengembangkan usaha batik tulis, sekaligus menjaga para artisan batik tulis untuk terus berkarya dan memperluas pasarnya.

Dia mempekerjakan tiga pengrajin di Pekalongan, Cirebon dan Lasem, serta dua desainer dan penjahit untuk collection ready to wear.

Selama pandemi, Iftitakhiyah mendapatkan pinjaman murah Rp 50 juta pada 2020. Omzet Batik Pekatan mencapai Rp 150 juta pada tahun itu. Pada 2021, omzetnya meningkat menjadi sekitar Rp200 juta setelah pemasarannya dibantu Pertamina.

Batik Pekatan sudah dua kali mengikuti event yaitu Pertamina Smexpo 2021 dan Adiwastra.

Yuli berencana menambah permodalan lewat pinjaman dari Pertamina untuk menambah modal stok bahan baku.

 

Selain itu, modal tersebut akan digunakan buat mengembangkan pemasaran lebih luas, baik di Jawa maupun luar Jawa.

“Kami juga ingin menembus negara luar seperti Malaysia, Singapura, dan Jepang,“ tuturnya.

Dengan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan, tutur Yuli, dia dapat memberikan pelatihan batik kepada masyarakat.

Saat ini, dia telah melakukan pembinaan batik di sekolah, anak-anak difabel, anak-anak berkebutuhan khusus agar mereka mengenal batik sejak dini.

Atas inisiatif ini, Yuli mendapatkan penghargaan sebagai Juara 1 Local Hero Pertamina 2019.

“Pendanaan lanjutan dari Pertamina akan memungkinkan saya bisa memberikan pelatihan batik ke masyarakat lebih banyak dan juga pengembangan dan penelitian motif Kudus semakin lebih banyak,” paparnya.

Selain itu, Yuli telah mempersiapkan Muria Batik untuk mengikuti e-tendering sehingga pasarnya makin terbuka luas.

“Selama ini belum pernah ikut tender. Kalau untuk kantor seragam biasanya pesan langsung. Ke depan kami memang sudah ada rencana ikut e-tendering,” tuturnya.

Direktur Pengembangan UKM dan Koperasi Kementerian PPN/Bappenas Ahmad Dading Gunadi mengatakan pemerintah telah mendorong pengadaan barang dan jasa pemerintah yang bersumber dari dari UMKM.

Fasilitas yang telah dikembangkan adalah e-purchasing berupa katalok elektronik dan toko daring.

“Aplikasi belanja online dikembangkan LKPP dengan menyediakan berbagai macam produk dari berbagai komoditas yang dibutuhkan oleh pemerintah,“ katanya.

Fasilitas lainnya, kata Ahmad Dading, adalah e-tendering berupa Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) dan Pasar Digital (PaDi) Kementerian BUMN.

Dikatakan, Kementerian BUMN meluncurkan program Pasar Digital (PaDi) yang bertujuan untuk menjadi solusi bagi UMKM, BUMN, dan Pemerintah dalam menciptakan ekosistem pengadaan barang jasa yang terintegrasi dan transparan.

“PaDi memiliki layanan seperti marketplace business-to-business dan business-to-consumer berupa pasar digital untuk belanja B2B maupun retail, otomasi perpajakan, PaDi e-Procurement, dan Control Tower Dashboard sebagai media informasi terkait UMKM dan pembelanjaan UMKM,“ paparnya.
]]> , Pelaku usaha batik yang sebagian besar merupakan pengusaha kecil merupakan salah satu ujung tombak pelestarian warisan budaya nasional. Sekitar 300 orang perajin batik di seluruh Indonesia telah menjadi mitra binaan PT Pertamina (Persero) dan mendapatkan pinjaman murah dengan total nilai mencapai Rp 11,503 miliar.

Salah satu penerima pendanaan Pertamina adalah Yuli Astuti, pemilik Muria Batik Kudus, yang membangun bisnis batiknya sejak 2006 untuk melestarikan batik Kudus.

Menurutnya, batik Kudus yang mengalami kejayaan pada era 1930-an hingga 1970-an mulai punah. Untuk menjaga warisan budaya itu, dia melakukan penelitian dan membuat batik Kudus dengan menerapkan kearifan lokal.

“Saya memilih menggunakan nama Muria Batik karena sering meneliti sejarah di Gunung Muria yang kemudian saya aplikasikan ke motif batik,” ujarnya, kemarin.

Sejauh ini, Yuli telah mendaftarkan sekitar 30 motif batik di Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) seperti motif Parijotho, Kudusan, Kapal Kandas, dan batik-batik lainnya yang khas dengan daerah Kudus.

Untuk mengembangkan bisnis batik yang berlokasi di Karangmalang itu, dia telah dua kali mendapatkan pinjaman murah dari Pertamina yakni senilai Rp 10 juta pada 2017 dan Rp 150 juta pada 2019. Omzetnya meningkat 30 persen hingga Rp 100 juta rupiah per bulan.

Untuk pendanaan dari Pertamina, pertama kali Yuli dikenalkan oleh temannya yang telah lebih dulu menjadi mitra binaan.

Ia mengaku sangat terbantu sekali setelah mendapatkan pendanaan tersebut. Selain dengan bunga ringan dan pembinaan selama ini, dirinya memiliki kesempatan mengikuti pameran dan pemasaran yang diberikan Pertamina.

“Sangat membantu perkembangan usaha Muria Batik. Walaupun kemarin ada pandemi masih mampu bertahan,“ tuturnya.

Mitra binaan Pertamina lainnya adalah Iftitakhiyah, pemilik usaha Batik Pekatan, di Depok, Jawa Barat, yang dirintis pada 2019. Dia yang terlahir dari keluarga pengusaha batik di Pekalongan mengembangkan usaha batik tulis, sekaligus menjaga para artisan batik tulis untuk terus berkarya dan memperluas pasarnya.

Dia mempekerjakan tiga pengrajin di Pekalongan, Cirebon dan Lasem, serta dua desainer dan penjahit untuk collection ready to wear.

Selama pandemi, Iftitakhiyah mendapatkan pinjaman murah Rp 50 juta pada 2020. Omzet Batik Pekatan mencapai Rp 150 juta pada tahun itu. Pada 2021, omzetnya meningkat menjadi sekitar Rp200 juta setelah pemasarannya dibantu Pertamina.

Batik Pekatan sudah dua kali mengikuti event yaitu Pertamina Smexpo 2021 dan Adiwastra.

Yuli berencana menambah permodalan lewat pinjaman dari Pertamina untuk menambah modal stok bahan baku.

 

Selain itu, modal tersebut akan digunakan buat mengembangkan pemasaran lebih luas, baik di Jawa maupun luar Jawa.

“Kami juga ingin menembus negara luar seperti Malaysia, Singapura, dan Jepang,“ tuturnya.

Dengan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan, tutur Yuli, dia dapat memberikan pelatihan batik kepada masyarakat.

Saat ini, dia telah melakukan pembinaan batik di sekolah, anak-anak difabel, anak-anak berkebutuhan khusus agar mereka mengenal batik sejak dini.

Atas inisiatif ini, Yuli mendapatkan penghargaan sebagai Juara 1 Local Hero Pertamina 2019.

“Pendanaan lanjutan dari Pertamina akan memungkinkan saya bisa memberikan pelatihan batik ke masyarakat lebih banyak dan juga pengembangan dan penelitian motif Kudus semakin lebih banyak,” paparnya.

Selain itu, Yuli telah mempersiapkan Muria Batik untuk mengikuti etendering sehingga pasarnya makin terbuka luas.

“Selama ini belum pernah ikut tender. Kalau untuk kantor seragam biasanya pesan langsung. Ke depan kami memang sudah ada rencana ikut etendering,” tuturnya.

Direktur Pengembangan UKM dan Koperasi Kementerian PPN/Bappenas Ahmad Dading Gunadi mengatakan pemerintah telah mendorong pengadaan barang dan jasa pemerintah yang bersumber dari dari UMKM.

Fasilitas yang telah dikembangkan adalah epurchasing berupa katalok elektronik dan toko daring.

“Aplikasi belanja online dikembangkan LKPP dengan menyediakan berbagai macam produk dari berbagai komoditas yang dibutuhkan oleh pemerintah,“ katanya.

Fasilitas lainnya, kata Ahmad Dading, adalah etendering berupa Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) dan Pasar Digital (PaDi) Kementerian BUMN.

Dikatakan, Kementerian BUMN meluncurkan program Pasar Digital (PaDi) yang bertujuan untuk menjadi solusi bagi UMKM, BUMN, dan Pemerintah dalam menciptakan ekosistem pengadaan barang jasa yang terintegrasi dan transparan.

“PaDi memiliki layanan seperti marketplace businesstobusiness dan businesstoconsumer berupa pasar digital untuk belanja B2B maupun retail, otomasi perpajakan, PaDi eProcurement, dan Control Tower Dashboard sebagai media informasi terkait UMKM dan pembelanjaan UMKM,“ paparnya.

]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2020 - 2024. PT Juan Global. All rights reserved. DigiBerita.com. |