Penjualan Amazon Tembus US$200,6 Miliar, E-Commerce dan AI Pacu Kuartal Kedua 2026
4 min read
Amazon Spheres di kompleks kantor pusat Amazon, Seattle. Foto: Joe Mabel. Sumber: Wikimedia Commons. Lisensi: CC BY-SA 4.0.
Amazon membukukan penjualan bersih sebesar US$200,6 miliar pada kuartal kedua 2026, melonjak 20 persen dibandingkan US$167,7 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Capaian tersebut menegaskan daya tahan bisnis raksasa e-commerce Amerika Serikat itu ketika perdagangan global menghadapi tekanan biaya, perubahan tarif, dan ketidakpastian belanja konsumen. Laporan perusahaan yang dirilis pada 30 Juli 2026 menunjukkan pertumbuhan tidak hanya berasal dari komputasi awan, tetapi juga dari kegiatan belanja daring, iklan, langganan, serta layanan penjual. Amazon juga mencatat laba operasi US$27,5 miliar, naik 43 persen dari US$19,2 miliar setahun sebelumnya. Performa ini menempatkan ekosistem perdagangan digital Amazon sebagai salah satu penggerak utama ekspansi perusahaan sepanjang April hingga Juni.
Di Amerika Utara, penjualan segmen Amazon meningkat 12 persen menjadi US$100,1 miliar, sedangkan penjualan internasional tumbuh 11 persen menjadi US$40,9 miliar. Setelah dampak perubahan nilai tukar dikeluarkan, pertumbuhan segmen internasional tercatat 10 persen. Angka tersebut penting karena bisnis ritel Amazon beroperasi melalui jaringan pasar yang luas dengan karakter konsumen, struktur biaya, dan persaingan yang berbeda. Perusahaan mampu membukukan laba operasi US$8,7 miliar dari Amerika Utara dan US$2,1 miliar dari pasar internasional. Hasil itu memperlihatkan bahwa skala marketplace, layanan pemenuhan pesanan, dan efisiensi operasional tetap menjadi fondasi bisnis e-commerce Amazon.

Amazon mengaitkan pertumbuhan ritelnya dengan pengiriman yang semakin cepat, perluasan pilihan barang, dan penggunaan kecerdasan buatan untuk membantu konsumen menemukan produk. Perusahaan menyatakan jumlah barang yang dikirim pada hari yang sama atau keesokan hari meningkat lebih dari 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Jaringan pengiriman cepat itu mencakup lebih banyak kota dan kategori kebutuhan sehari-hari, sehingga memperpendek jarak antara pencarian produk dan penerimaan pesanan. Kecepatan tersebut menjadi pembeda penting ketika pelanggan makin terbiasa membandingkan harga dan waktu pengiriman di berbagai platform. Investasi pada gudang, robotika, perencanaan inventaris, dan sistem logistik karenanya berpengaruh langsung terhadap pengalaman belanja daring.
Bisnis pengiriman sangat cepat bernama Amazon Now juga mencatat pertumbuhan penjualan dan unit lebih dari 80 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Jumlah pelanggan layanan tersebut bertambah lebih dari 60 persen ketika cakupannya diperluas ke lebih dari 250 kota di sembilan negara. Model ini menawarkan ribuan bahan makanan dan kebutuhan rumah tangga dengan waktu pengiriman sekitar 30 menit di wilayah yang dilayani. Ekspansi itu menunjukkan bahwa persaingan e-commerce tidak lagi hanya berpusat pada banyaknya produk atau potongan harga. Kedekatan fasilitas pemenuhan pesanan dengan konsumen kini menjadi faktor penting dalam merebut transaksi bernilai kecil tetapi berfrekuensi tinggi.
Momentum lain datang dari Amazon Business, layanan perdagangan elektronik untuk perusahaan dan organisasi, yang mencapai nilai penjualan bruto tahunan sebesar US$60 miliar. Sejak awal 2026, layanan itu menambah sekitar 1,8 juta akun sehingga totalnya melampaui 11 juta akun di seluruh dunia. Pilihan produknya bertambah hampir 30 persen dibandingkan tahun lalu, termasuk pengiriman bahan makanan pada hari yang sama untuk bisnis di lebih dari 2.300 kota dan wilayah Amerika Serikat. Pertumbuhan ini memperluas posisi Amazon dari pasar konsumen menjadi pemasok digital bagi kantor, lembaga, dan pelaku usaha. Skala pelanggan bisnis juga memberikan sumber permintaan yang berbeda dari pola belanja rumah tangga yang lebih sensitif terhadap musim promosi.

Perusahaan turut mempercepat integrasi kecerdasan buatan dalam proses belanja melalui Alexa untuk Shopping, asisten yang sebelumnya dikenal sebagai Rufus. Fitur tersebut membantu pengguna membandingkan produk, meninjau riwayat harga, memperoleh rekomendasi, dan mengatur pembelian otomatis ketika harga menyentuh batas tertentu. Amazon mengatakan penggunaan alat belanja berbasis kecerdasan buatan terus bertumbuh seiring konsumen mencari cara yang lebih ringkas untuk menyaring katalog besar. Perubahan ini menggeser fungsi marketplace dari sekadar etalase pencarian menjadi pendamping keputusan yang dapat memahami percakapan dan preferensi pelanggan. Bagi penjual, perkembangan itu dapat mengubah cara produk ditemukan karena informasi, ulasan, harga, dan relevansi menjadi bahan bagi rekomendasi sistem.
Di luar ritel, Amazon Web Services mencatat penjualan US$42,2 miliar, meningkat 37 persen dan menjadi pertumbuhan tercepat dalam 18 kuartal. Reuters melaporkan angka tersebut melampaui perkiraan pertumbuhan konsensus analis sebesar 31,21 persen berdasarkan data LSEG. Laju bisnis komputasi awan memberi Amazon ruang finansial lebih besar untuk membangun pusat data, cip kecerdasan buatan, robot, satelit, dan infrastruktur perdagangan digital. Kepala Eksekutif Andy Jassy menyampaikan bahwa belanja modal 2026 diperkirakan mencapai sekitar US$220 miliar, naik dari rencana US$200 miliar yang diumumkan pada Februari. Investasi besar itu memperlihatkan hubungan yang semakin erat antara kekuatan awan, kemampuan kecerdasan buatan, dan efisiensi operasi e-commerce.
Kinerja laba bersih Amazon turut dipengaruhi keuntungan sebelum pajak dari investasinya di Anthropic sebesar US$53,4 miliar pada kuartal tersebut. Secara keseluruhan, laba bersih mencapai US$62,65 miliar atau US$5,75 per saham, dibandingkan US$18,16 miliar atau US$1,68 per saham setahun lalu. Karena keuntungan investasi bersifat berbeda dari pendapatan operasional rutin, pertumbuhan penjualan dan laba operasi tetap menjadi ukuran penting untuk menilai bisnis inti. Amazon juga menghadapi biaya tarif yang lebih tinggi serta kenaikan ongkos pengiriman akibat perkembangan harga minyak dan bahan bakar. Dengan demikian, hasil kuartalan yang kuat tidak menghilangkan risiko eksternal yang dapat memengaruhi harga barang, margin penjual, dan belanja pelanggan.
Untuk kuartal ketiga 2026, Amazon memperkirakan penjualan bersih berada pada rentang US$197 miliar hingga US$202 miliar. Proyeksi itu setara dengan pertumbuhan 9 persen sampai 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Perusahaan menjelaskan bahwa perbandingan tahunan dipengaruhi pemindahan Prime Day 2026 ke kuartal kedua, sedangkan acara tersebut berlangsung pada kuartal ketiga pada 2025. Jika dampak Prime Day pada kedua tahun dikeluarkan, pertumbuhan tahunan kuartal ketiga diperkirakan hampir empat poin persentase lebih tinggi. Perubahan kalender promosi ini penting agar pembaca tidak menafsirkan perlambatan proyeksi sebagai pelemahan yang sepenuhnya berasal dari permintaan konsumen.
Bagi industri e-commerce global, laporan Amazon menunjukkan bahwa pertumbuhan skala besar masih mungkin dicapai melalui kombinasi logistik cepat, pilihan produk luas, layanan bisnis, dan teknologi kecerdasan buatan. Namun, strategi tersebut membutuhkan investasi modal yang sangat besar dan jaringan operasi yang sulit ditiru oleh perusahaan lebih kecil. Persaingan akan semakin ditentukan oleh kemampuan platform mengelola stok dekat pelanggan, mempercepat pengiriman, serta memberikan rekomendasi yang relevan tanpa menambah kerumitan belanja. Tekanan tarif dan ongkos bahan bakar juga dapat menguji apakah efisiensi teknologi cukup untuk menjaga harga tetap menarik. Kuartal kedua Amazon akhirnya menjadi gambaran tentang e-commerce asing yang bertumbuh kuat, tetapi tetap harus menyeimbangkan ekspansi, biaya, dan risiko perdagangan internasional.
Sumber:
Amazon
Reuters
AP